|

Indonesia Berbagi Pengalaman Penanganan Bencana di Nairobi

Kamis , 18 Mei 2017

Nairobi - Indonesia sebagai anggota biro Asia Pasific Ministrial Meeting Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD) sekaligus ketua Working Group 5 yang menangani masalah pengembangan perkotaan yang berfokus pada penanganan bencana alam, buatan, dan iklim  (Urban Development with aFocus on Natural, Man-made, and Climate Induce Disaster - Building Urban Resilience) mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam penanganan bencana dalam pertemuan Biro APMCHUD di Nairobi, Kenya, pekan kemarin.

Pengalaman penanganan bencana di Indonesia, menjadi masukan berharga dalam penanganan bencana di negara anggota lainnya. Pertemuan Biro APMCHUD ini dihadiri oleh 6 negara dari 8 anggota biro dan dipimpin oleh Menteri Perumahan dan Pengurangan Kemiskinan Perkotaan India.

Pengalaman Indonesia selama 2016 telah mengalami kejadian bencana sebanyak 1.985 kali. Sebagian besar bencana berupa banjir sebanyak 659 kali, angin topan 572 kali, longsor 485 kali, kebakaran hutan dan lahan sebanyak 178 kali, kombinasi banjir dan longsor 53 kali, abrasi 20 kali, gempa bumi 11 kali, dan gunung meletus 7 kali.

"Sampai dengan April 2017, BNPB mencatat telah terjadi 654 bencana yang mengakibatkan korban meninggal sebanyak 161 jiwa, 174 luka-luka, dan 584.173 kehilangan tempat tinggal", jelas Tri Dewi Virgiyanti, Direktur Perkotaan, Perumahan, dan Permukiman Bappenas selaku ketua perwakilan dari Indonesia didampingi Arvi Argyantoro, Kepala Balai Litbang Tata Bangunan dan Lingkungan Puskim, Kementerian PUPR.

"Langkah Pemerintah Indonesia melalui BNPB sebagai koordinator adalah mengurangi dampak yang ditimbulkan bencana, diantaranya melalui pembangunan rumah dan infrastruktur permukiman bagi masyarakat yang kehilangan rumah seperti gempa Pidie Jaya, gunung meletus di Sinabung, dan banjir bandang di Garut yang pelaksanaan fisiknya dilakukan oleh Kementerian PUPR", tambah Virgi.

Dalam pelaksanaan tanggap darurat bencana, Kementerian PUPR telah membangun sebanyak 350 unit rumah bagi korban bencana gunung meletus di Sinabung dan tahun 2017 ini akan dibangun lagi sebanyak 2.500 unit rumah. Sementara untuk bencana gempa bumi di Pidie Jaya, Kementerian PUPR telah membangun puluhan sekolah (SD/MIN, SMP/MTsN, SMA/MAN, dan SMK) yang berada di Kabupaten Pidie Jaya dan Bireun. Bahkan, Kementerian PUPR juga telah membantu membangun Rumah Sakit Daerah yang rusak parah karena bencana gempa tersebut.

Kementerian PUPR tidak hanya melakukan tindakan tanggap darurat di lokasi bencana, tapi dilakukan juga pada lokasi pengungsian untuk menampung para pengungsi  di Atambua Timor Timur dengan membangun sebanyak 350 rumah.

Selain itu, BNPB juga melakukan kampanye dan simulasi secara terus menerus yang melibatkan masyarakat didaerah rawan bencana dan melakukan pelatihan ICT (Incident Command System) bekerjasama dengan United States Forestry Departement (USFD) kepada stakeholder dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam penanganan bencana.

Menurut virgi, terdapat tiga komponen penting dalam penanganan bencana, yaitu dari sisi aturan, manusia, dan fisik. Aturan meliputi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh masyarakat terhadap ruang maupun siapa berbuat apa. Manusia meliputi perilaku dalam menghadapi bencana termasuk peningkatan kemampuan dalam penanganan bencana. Sementara fisik meliputi kualitas bangunan yang harus diperhatikan untuk menghindari bencana.

APMCHUD adalah sebuah forum bagi negara-negara Asia Pasifik untuk saling bertukar informasi dan pengalaman dalam pengembangan perumahan dan perkotaan. Sekretariatnya berada di India dan anggotanya adalah para menteri di Asia Pasifik yang menangani masalah perumahan dan pengembangan perkotaan. Pertemuan kali ini adalah pertemuan Biro APMCHUD yang pertama setelah dilaksanakannya pertemuan APMCHUD ke-6 di New Delhi India pada tanggal 14-16 Desember 2016 setelah dikeluarkannya deklarasi New Urban Agenda di Quito, Ekuador, Oktober 2016 lalu.(kr)

Biro Komunikasi Publik

Tag :  

Share