Pencarian

Telaahan Isu Strategis

KEBIJAKAN PENANGANAN MUDIK LEBARAN

Sebuah Perspektif untuk Penguatan Peran Departemen PU ke Depan

PENDAHULUAN

Secara rutin paling tidak selama 2 (dua) minggu dalam satu tahun dan biasanya menjelang akhir tahun, dan untuk tahun 2009 ini satu minggu di minggu ketiga dan satu minggu di akhir bulan September 2009, masyarakat dan Pemerintah Indonesia disibukkan oleh persiapan dan pasca perayaanhari besar Lebaran, yang biasanya ditandai dengan pergerakan manusia berskala jutaan orang keluar dari

kota-kota utama menuju ke kampung halaman, dan sebaliknya.

Dalam sebuah edisi akhir tahun harian KOMPAS mencatat bahwa selama 7 (tujuh) hari sebelum Lebaran dan 2 (dua) hari setelah Lebaran pada tahun 2008, terjadi970 kasus kecelakaan lalu lintas di jalan yang menelan 1.835 korban: 427 orang meninggal dunia, 524 orang luka berat, dan sisanya mengalami luka ringan. Jumlah itu pada mudik Lebaran tahun 2009 ini kemungkinan bisa bertambah apalagi jika dihitung sampai berakhirnya puncak arus balik nantinya.

Kemacetan lalu lintas yang ditimbulkan oleh pergerakan manusia yang luar biasa besarnya tersebut juga sangat fenomenal dan pada akhirnya menimbulkan inefisiensi waktu, biaya, serta ketidaknyamanan bagi para pemudik. Sebagai salah satu contoh: jarak Jakarta Cirebon yang pada hari-hari biasa dapat ditempuh dalam waktu maksimal 3 (tiga) jam perjalanan saja, namun pada puncak arus mudik Lebaran harus ditempuh dalam waktu 19 jam.

Sebagai pembina urusan jalan, maka telah menjadi tugas dan tanggung jawab Departemen PU untuk menjamin keselamatan dan kelancaran pergerakan manusia antar-kota ataupun kota-desa tersebut yang hingga saat ini masih 90% bertumpu pada jaringan jalan. Dengan fungsinya yang vital tersebut, maka sangatlah wajar apabila berbagai harapan sebagian besar masyarakat selama mudik Lebaran akan bertumpu pada jaringan jalan yang tersedia. Kajian singkat berikut berupaya mengidentifikasi 3 (tiga) isu pokok berkaitan dengan penanganan mudik Lebaran pada tahun-tahun yang akan datang, yang uraiannya tidak hanya dibatasi dari perspektif teknis jalan raya semata, namun secara lebih luas, dari perspektif sosial dan perspektif penataan ruang yang lebih bersifat jangka panjang.

MUDIK LEBARAN SEBAGAI SEBUAH FENOMENA SOSIAL

Secara harfiah, mudik dapat diartikan sebagai kembali ke kampung halaman yang dilakukan masyarakat secara serentak dalam rangka perayaan Lebaran. Fenomena mudik Lebaran sendiri telah berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya, semenjak kemerdekaan Republik Indonesia. Mudik Lebaran dapat dianggap sebagai sebuahritual religius dan sosial. Religius karena ritual ini dilakukan bersamaan dengan perayaan tahunan hari besar Lebaran. Sosial karena fenomena mudik-Lebaran sarat akan makna kekeluargaan karena di dalamnya terjadi proses reunifikasi anggota keluarga yang selama ini, paling tidak 1 (satu) tahun terakhir, terpisah-pisah. Selain itu, mudik Lebaran seringkali digunakan oleh masyarakat sebagai simbol meningkatnya status sosial yang diukur dari keberhasilan ekonomi.

Bagi sebagian masyarakat kecil, maka mudik Lebaran merupakan bentuk kemerdekaan, sekaliguspelepasan dari penderitaan dan tekanan hidup yang berat di kawasan perkotaan, walaupun hanya bersifat temporer. Bagi sebagian masyarakat lainnya, maka mudik Lebaran pun dianggap sebagai bentukrekreasi yang mengandung keunikan tersendiri dalam suasana perjalanan yang hiruk pikuk dan suasana perdesaan yang tenang. Singkatnya, mudik Lebaran adalahtradisi yang sangat penting bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.

Pulau Jawa dalam konteks mudik Lebaran tetap menjadi sentral perhatian karena besaran bangkitan dan tarikan penumpang dalam negeri, baik perjalanan intra-pulau maupun perjalanan keluar Pulau (khususnya ke Sumatera melalui lintas timur), yang masih sangat dominan. Sebagai sebuah fenomena fisik secara massal dalam kurun waktu tertentu yang relatif sempit, maka mudik Lebaran dapat dianalogikan dengan pergerakan manusia dalam jumlah besar yang terjadi diEropa kontinental. Pada musim panas, terjadi pergerakan jutaan penduduk menuju kawasanpesisir Mediterania (pantai timur Spanyol, pantai selatan Perancis, pantai barat Italia, Yunani, dan sekitarnya). Sementara pada musim dingin, terjadi pergerakan dari Eropa Barat dan Timur ke arah stasiun-stasiun ski di lereng pegunungan Alpen.

Perbedaan mendasar dari fenomena pergerakan manusia (antara Indonesia dan Eropa kontinental) terletak pada makna ritualnya yang tidak dimiliki oleh bangsa Eropa. Namun, dari sisi kenyamanan melakukan perjalanan (wisata, sosial, dsb), Indonesia tentunya masih harus banyak belajar, khususnya dalam hal pengorganisasian perjalanan yang sangat manusiawi serta dalam penyediaan infrastruktur (transportasi) yang sangat handal.

KESIAPAN ASPEKTEKNIS JALAN RAYA SEBAGAI INDIKATOR KINERJA PELAYANAN JALUR LEBARAN

Kondisi dan kualitas jalan raya akan sangat menentukan kenyamanan, kecepatan dan keselamatan para pengguna jalan raya dari tempat asal ke tempat tujuan mudiknya. Untuk itu, setidaknya ada 4 (empat) faktor yang harus menjadi perhatian utama, yaitu: (1) kondisi dan lebar jalan; (2) keberadaan gangguan terhadap fungsi jalan raya; (3) keselamatan pengguna jalan; serta (4) ketersediaan fasilitas jalan, seperti rest-area.

Pertama, secara umum, kondisi dan lebar jalan sangat mempengaruhi kenyamanan, kecepatan dan keselamatan para pemudik pada ruas-ruas yang menghubungkan provinsi DKI Jakarta Banten serta DKI Jakarta -Jawa Barat hingga Jawa Tengah. Pada ruas-ruas ini, beban kepadatan lalu lintas masih sangat tinggi. Peningkatan lebar jalan, untuk pertamakalinya sejak era Daendels 200 tahun silam pada ruas the Grootse Postweg, menjadi 4 (empat) lajur pada ruas-ruas antara Jakarta - Semarang (misal di ruas Tegal Pemalang dan Pemalang Pekalongan) diharapkan dapat mengatasi beban tersebut. Sementara itu, di Provinsi Yogyakarta dan batas Jawa Tengah hingga Jawa Timur, kualitas jalan yang relatif baik diharapkan dapat terus dipertahankan kondisinya.

Dengan segala permasalahan dan keterbatasannya, pelayanan jalan selama mudik-Lebaran tahun 2009 ini diharapkan akanlebih optimal dibandingkan dengan tahunyang lalu, yang antara lain disebabkan oleh kerusakan jalan yang diakibatkan olehgenangan air dan banjir. Berdasarkan data historis maka pola hujan yang terjadi lazimnya akan dimulai pada awal bulan November, dengan puncaknya antara bulan Februari hingga April tahun berikutnya.

Kedua, tidak dapat disangkal bahwa keberadaan pasar tumpah telah menjadi salah satu faktor utama yang memicu kemacetan parah di jalan raya, khususnya selama mudik-Lebaran, yang kerapkali menyebabkan antrian kendaraan hingga beberapa kilometer panjangnya. Secara geografis, lokasi pasar-tumpah tersebut nyaristidak berubah dari waktu ke waktu,diantaranya adalah Ciasem, Sukamandi, Sukra, Patrol, Eretan, Tegal Gubug, Mundu, Gebang, Losari, dan Jatinangor. Keberadaan pasar tumpah jelas menunjukkan bahwa gangguan ini menjadi pekerjaan rumah yang belum pernah diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah daerah setempat. Di beberapa kota di Jawa Tengah, telah tersedia jalur alternatif berupa jalan lingkar yang sedikit banyak dapat membantu mengurangi kemacetan lalu-lintas di titik tersebut.

Ketiga, keselamatan pengguna jalan menjadi isu utama yang semakin penting dari tahun ke tahun. Catatan statistik menunjukkan bahwa jalan raya merupakan lokus utama kecelakaan dan kematian terbesar di Indonesia, jauh melebihi korban perang Aceh atau wabah penyakit menular misalnya. Fakta ini menjadi semakin valid, bilamana diasosiasikan dengan peningkatan jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjelma menjadisarana transportasi primadona masyarakat. Dengan jarak tempuh dari kota asal ke tujuan yang demikian jauh bahkan hingga ratusan km serta tidak adanya jalur khusus yang diperuntukkan bagi pengguna sepeda motor, tentunya penggunaan sepeda motor sangat tidak dianjurkan dan sangat membahayakan pengguna jalan dan masyarakat yang beraktivitas di sepanjang jalan.

Keselamatan di jalan tol juga harus mendapatkan perhatian yang serius dari pengelola jalan tol sepanjang mudik Lebaran ini. Faktor penyebab terjadinya kecelakaan harus dieliminir sekecil mungkin, yakni: (1) ketidakrataan jalan; (2) ketidaktertiban/mentalitas pengguna jalan (misal: pemanfaatan bahu jalan, pelanggaran kecepatan maksimum); (3) ketidaksigapan penanganan kecelakaan oleh mobil ambulans; dan (4) kelelahan pengemudi. Untuk itu, langkah-langkah preventif perlu lebih diutamakan, seperti: penyebarluasan pesan-pesan di sepanjang jalan tol mengenai ketertiban, kehati-hatian/kewaspadaan, dan pentingnya kesehatan pengemudi.

Keberadaan area istirahat pada setiap jarak 10 km, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum (seperti: toilet, mobil ambulans, dsb), sosial (khususnya masjid) dan ekonomi (misal: restoran, bengkel, dan pompa bensin) juga memainkan peran yang tidak kecil. Dengan memperhatikan uraian di atas, maka kesiapan aspek teknis jalan raya akan menentukankinerja Departemen PU dalam melayani arus mudik Lebaran bagi masyarakat. Indikator kinerja ini penting untuk menekanberbagai efek negatif dari pelayanan jalan yang buruk selama periode mudik Lebaran.

FENOMENA MUDIK LEBARAN DALAM PERSPEKTIF PENATAAN RUANG

Dari perspektif penataan ruang, maka fenomena mudik-Lebaran semakin mengkonfirmasi masih terjadinyaketergantungan yang besar pada beberapa aglomerasi kota-kota utama Indonesia, khususnya Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Dengan kata lain, fenomena mudik-Lebaran merupakan salah satu cermin kebelum-berhasilan kita dalam mensejahterakan masyarakat desa dan membangun kawasan perdesaan secara lebih berimbang dengan kawasan perkotaan.

Kota-kota, dengan segala daya tariknya (khususnya kesempatan kerja, ketersediaan infrastruktur dan kelengkapan fasilitas sosial-ekonominya) tetap menjadi magnet utama bagi masyarakat desa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan mengangkat harkat dirinya,melepaskan diri dari berbagai keterbelakangan dan ketertinggalan. Barangkali, apabila tidak terjadi ketimpangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan yang tinggi, fenomena mudik Lebaran tidak akan menjadi isu yang demikian besar menyedot perhatian masyarakat.

Proporsi penduduk perkotaan tahun 2005 di kawasan Jawa bagian Barat pun tercatat lebih tinggi (DKI Jakarta 100%, Jawa Barat 50%, dan Banten 52%) dibandingkan dengan di Jawa bagian Tengah Timur (Jawa Timur 41%, Jawa Tengah 40%, dan Yogyakarta 58%).Artinya, konsentrasi kegiatan sosial-ekonomi dan penumpukan penduduk cenderung ke bagian Barat Pulau Jawa. Sehingga logis saja apabilaarus mudik berasal dari kawasan Jawa bagian Barat menuju sebagian besar ke arah Tengah Timur dan selebihnya ke Pulau Sumatera.

Apabila kota-kota tetap dipandang sebagai satu-satunya tempat untuk menjadi sejahtera sesuai dengan tuntutan peradaban modern, sementara desa-desa tetap dipandang sebagai tempat yang tidak memiliki harapan danterus menjadi simbol kemiskinan dan ketertinggalan, maka proses migrasi desa kota akan terus berlangsung. Kota-kota akan tetap menjadi tumpuan harapan bagi generasi berikutnya untuk merajut mimpi dan melanjutkan kisah sukses para pendahulunya.

Ketimpangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan di negara berkembang, termasuk Indonesia, telah disinyalir 30 tahun yang silam oleh Todaro (1978).Ketimpangan tersebut dicirikan oleh: (1) perbedaan yang mencolok antara pendapatan orang kota dan orang desa; (2) di kota sendiri terdapat kehidupan segelintir orang kaya di tengah-tengah orang miskin; dan (3) di desa terdapat segelintir manusia yang relatif lebih modern berada di tengah lingkungan masyarakat tradisional yang luas. Kelompok kecil ini sangat progresif, lincah, kaya dan berada di tengah massa yang miskin (lihat Hafsah, 2006).

Sulit dibayangkan apabila pada tahun 2025 mendatang, dengan proporsi penduduk perkotaan Indonesia mencapai sekurangnya 65%, bagaimana pemerintah dapat melayani dengan optimal kebutuhan masyarakat dalam menjalani prosesi tahunan bernama mudik Lebaran? Dengan kata lain, mungkinkah mudik-Lebaran menjadi sebuahritual tahunan yang lebih manusiawi, cepat dan nyaman, layaknya sebuah perjalanan wisata yang dapat dinikmati masyarakat?

Keseimbangan pembangunan yang diikuti dengan pemerataan kesempatan dan kesejahteraan antara kawasan perkotaan dan perdesaan perlu menjadi perhatian bersama. Kita perlu meyakini bahwa penyelesaian sebagian masalah perkotaan berada di kawasan perdesaan, salah satunya dengan pendekatan kawasan agropolitan yang awal mulanya digagas oleh John Friedmann dan Mike Douglass. Pendekatan agropolitan atau kota di ladang tersebut, secara juridis, telah memiliki landasan yang kuat, sebagaimana telah diatur dalam Pasal 48 dan 51 pada UU No.26/2007 tentang Penataan Ruang.

PERSPEKTIF KEBIJAKAN PENANGANAN MUDIK LEBARAN UNTUK JANGKA PENDEK HINGGA JANGKA PANJANG

Sebagai tumpuan harapan sebagian besar masyarakat, sangatlah wajar bila kinerja pelayanan Departemen PU menjadi sorotan utama selama periode mudik Lebaran tahun 2009 ini dan tahun-tahun mendatang.

Untuk jangka pendek, skenario business-as-usual masih valid untuk dijadikan andalan. Dalam kaitan ini, Departemen PU telah bekerja keras untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas, bahkan membangun jalan baru, dengan maksud agar ritual tahunan bernama mudik Lebaran dapat berlangsunglancar, manusiawi, nyaman, dan selamat, tanpa ekses yang tidak diharapkan. Infrastruktur jalan dalam kaitan ini sangatlah vital, sehingga seluruh masyarakat akan dapat menilai kinerja penyelenggaraan pelayanan secara kasat mata.

Namun demikian, untuk jangka menengah dan panjang, skenario lain perlu dipertimbangkan. Untuk jangka menengah, Departemen PU perlu terus mendorong disepakatinyaSISTRANAS agar dapat menjadi acuan pembangunan sektoral bidang transportasi, sekaligus dalam rangka melaksanakan amanat PP No. 26/2008 tentangRTRWN. Muatan RTRWN telah mengatur keseimbangan pengembangan antar-moda transportasi tersebut sebagai pembentuk struktur ruang nasional. Dengan kedua acuan hukum di atas, maka Departemen PU dapat terus mendorong penguatan sektor transportasi lain yang bersifat massal, khususnya kereta api, yang sekaligus bersifat komplementer dengan jaringan jalan. Dengan demikian akan terjadipembagian beban yang lebih merata antar-moda transportasi yang tidak hanya bertumpu pada jalan raya, seperti sarana dan prasarana kereta api, pelabuhan laut, dan pelabuhan udara. Pembebanan antar-moda sudah selayaknya dikembangkan sehingga prasana jalan dapat melayani kebutuhan logistik dan pergerakan manusia secara lebih efektif dan efisien.

Untuk jangka panjang, dalam rangka pemerataan beban spasial pada skala makro-nasional sebagaimana telah diamanatkan dalam RTRWN, maka sudah saatnya Pemerintah mulai memikirkan pengurangan beban Jakarta, khususnya, dan Pulau Jawa, umumnya, melalui desentralisasi kegiatan (bukan hanya desentralisasi kewenangan dan sumberdaya yang saat ini terjadi). Pembentukan struktur ruang wilayah nasional yang lebih efektif dan efisien diharapkan akan dapat terwujud melalui pembangunan prasarana dan sarana transportasi secara bertahap.

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu alasan mudik Lebaran adalah daya tarik kawasan perdesaan yang khas. Oleh karenanya, ke depan kawasan perdesaan perlu mempertahankan jati-dirinya yang unik tersebut. Dalam era kota ke depan, maka kawasan perdesaan harus dilihat sebagai warisan sekaligus pinjaman dari anak cucu kita yang harus dipelihara dengan baik. Kita perlu mulai mensosialisasikan pentingnya upaya perlindungan rural heritage, yang terdiri darinatural, cultural and landscape heritage.(Pusat Kajian Strategis, September 2009)

Gambar Penanganan Jalur Lebaran

Telaahan Isu Strategis Lainnya