2013-05-17 03:37:4

Kementerian PU Siapkan Program Kompensasi Kenaikan BBM

Pemerintah memahami apabila Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami kenaikan maka masyarakat miskin yang akan mengalami dampak negatif. Oleh sebab itu pemerintah menyiapkan program-program yang dapat membantu masyarakat miskin,diantaranya  Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akan membangun infrastruktur dasar yang dapat secara langsung membantu masyarakat.

“Pemerintah memahami bahwa kalau bbm naik maka masyarakat miskin akan mengalami dampak negatif, karena kita menaikan harga bbm tadi maka ada subsidi bbm yang diamankan, maka uang itu yang akan dipakai untuk menyelamatkan masyarakat miskin yang akan terkena dampak kenaikan,” tutur Menteri PU Djoko Kirmanto dalam Media Briefing (16/5) di Surabaya.

Seperti diketahui  anggaran belanja Pemerintah mengalami efisiensi sebesar Rp24,6 triliun yang akan dipergunakan untuk mengurangi dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap rakyat miskin.Kementerian PU sendiri mengalami efisiensi ssebesar Rp 6,1 triliun.

“Jadi nanti bbm akan naik, anggaran semua Kementerian dipotong, lalu anggaran terkumpul itu untuk memberikan bantuan kepada masyarakat miskin yang terkena dampak dan sisanya akan dipakai untuk infrastruktur dasar yang akan bermanfaat untuk masyarakat juga mengurangi beban masyarakat,” tutur Djoko Kirmanto.

Untuk itu Djoko mengatakan bahwa Kementerian PU telah menyiapkan 3 program sebagai kompensasi kepada masyarakat atas pengurangan subsidi BBM.

“Pertama adalah untuk rakyat miskin terutama di desa rawan air, di kampung nelayan, di pelabuhan perikanan yang tidak ada air , disitu akan digelontor air minum untuk mengatasi desa rawan air dan pelabuhan perikanan yang prosesnya memerlukan air baku,” tutur Djoko.

Program tersebut masuk kedalam Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan SPAM (P4-SPAM), yang akan mencakup a) Masyarakat di desa nelayan (termasuk Pelabuhan Perikanan/Pangkalan Pendaratan Ikan) di   159 kawasan pada 28 provinsi dengan target tambahan kapasitas produksi sebesar 318 l/dt untuk pelayanan 159 ribu jiwa; b) Masyarakat di daerah rawan air di 260 desa di 29 provinsi, dan 35 IKK di 10 provinsi dengan target tambahan kapasitas produksi sebesar 1.130 l/dt untuk pelayanan untuk 491 ribu jiwa; c) Masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan melalui pemanfaatan sisa kapasitas 2.350 l/dt di 341 kawasan di 31 provinsi dengan target pelayanan 940 ribu jiwa.

“Kedua adalah jaringan irigasi di desa-desa,selain itu juga embung yang sangat disarankan karena embung ini sangat penting untuk persediaan air,” tambah Djoko.

Untuk program kedua tersebut masuk kedalam Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan Infrastruktur SDA (P4-ISDA), a) yang mencakup Masyarakat miskin di daerah rawan air (pembangunan/rehabilitasi sarana dan prasarana penyedia Air Baku sebesar 5,02 M3/detik) di 27 Propinsi; b) Masyarakat miskin di perdesaan (dukungan layanan irigasi dan rawa seluas 140.803 Ha serta pembangunan 111 buah embung) di 26 Propinsi; dan c) Masyarakat miskin di kampung nelayan (pembangunan pengaman pantai dan normalisasi sungai) di 2 provinsi.

“Dan ketiga adalah pembangunan infrastruktur pedesaan,” tambah Djoko.

Program tersebut masuk kedalam Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan Infrastruktur Permukiman (P4-IP) yang cakupannya; a) Masyarakat miskin di 2.450 desa (2.450 desa dari 8.230 desa dengan tingkat kemiskinan diatas 50%), sebesar Rp. 350 juta/desa; b) Masyarakat miskin di 1.200 kelurahan (1.200 kelurahan dari 1.435 kelurahan dengan tingkat kemiskinan di atas 40%), sebesar Rp. 350 juta/kelurahan; c) Masyarakat miskin di 6.040 desa penerima program PPIP Reguler 2013; sebesar
Rp. 100 juta/desa
. (nrm)

Pusat Komunikasi Publik

170513



Pusat Komunikasi Publik