|

PELUNCURAN BUKU-BUKU PENATAAN RUANG

Rabu , 27 Des 2006

PELUNCURAN BUKU-BUKU PENATAAN RUANG

 

Permasalahan penataan ruang sudah menjadi pembicaraan publik, sehingga segala sesuatu selalu dikaitkan dengan aspek tata ruang. Hal ini menunjukkan perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap masalah penataan ruang. Demikian disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pada acara peluncuran buku-buku penataan ruang di Jakarta, Kamis malam (21/12).

 

“Buku ’Metropolitan di Indonesia : Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang’ serta ’Ruang Terbuka Hijau sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota’ hadir pada saat yang tepat,” ucap Djoko Kirmanto, “Literatur semacam ini tidak hanya penting sebagai bahan rujukan bagi pemerintah, tetapi juga penting sebagai sumber informasi bagi masyarakat luas.” Imbuhnya.

 

Acara peluncuran dihadiri oleh Komisi V DPR RI, para Ketua Pansus Penataan Ruang DPR RI, para penulis, akademisi, aktivis lingkungan, pejabat terkait di Ditjen Penataan Ruang, media massa, serta undangan lainnya.  

 

Menteri PU menuturkan, kawasan metropolitan menghadapi berbagai tantangan, terutama seperti isu urbanisasi dan kependudukan, kemacetan, kondisi lingkungan, perumahan, serta rendahnya fasilitas pelayanan sosial dan fasilitas umum lainnya. Permasalahan terkait isu penataan ruang tersebut dapat dijadikan topik dan pembahasan buku-buku penataan ruang yang selanjutnya.  

 

Dalam konteks penataan ruang, tekanan akibat mahalnya harga lahan di perkotaan telah mengakibatkan tergesernya ruang-ruang terbuka publik di perkotaan, sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan dan kenyamanan hidup di perkotaan.

 

Luas ruang terbuka hijau (RTH) di kota-kota besar dan kawasan metropolitan di Indonesia juga cenderung semakin berkurang. Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini, proporsi luaran RTH di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan telah berkurang dari 35% pada awal 1970-an menjadi kurang dari 10%.

 

Direktur Jenderal Penataan Ruang Departemen PU Hermanto Dardak mengatakan, RTH yang ada sebagian besar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan seperti jaringan jalan, gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan kawasan permukiman baru. Jakarta misalnya, saat ini hanya memiliki luas RTH sekitar 9 persen atau 7,08 m²rasio RTH per kapita, relatif masih lebih rendah dari persyaratan ideal yaitu di atas 20 m2 per kapita.

 

RTH sendiri memiliki peran menjadi unsur pembentuk kota apabila dirancang dengan baik dan benar sesuai dengan rencana tata ruang kotanya. RTH  yang ditata dengan baik akan memberi manfaat ekonomi sebagai akibat meningkatnya citra kota menjadi ramah lingkungan dan mampu menciptakan ruang visual, sehingga akan memberikan ‘nilai jual’tersendiri bagi pengembangan pariwisata. (rnd)

 

Pusat Komunikasi Publik

271206

 

 

271206

 

 

Tag :  

Share