Pencarian

KONDISI SURPLUS TELAPAK EKOLOGIS INDONESIA TERANCAM NEGARA-N

Senin , 13 Des 2010

KONDISI SURPLUS TELAPAK EKOLOGIS INDONESIA TERANCAM NEGARA-NEGARA TETANGGA

Telapak Ekologis Indonesia, yang saat ini masih dalam kondisi surplus, penting untuk dijaga karena terancam oleh negara-negara sekitar Indonesia yang kondisinya defisit. Negara-negara tersebut sangat bergantung pada Indonesia untuk memenuhi hutang ekologisnya, dan ini sangat merugikan bagi Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Komunikasi dan Hubungan Antar Negara Global Footprint Network, Pati Poblete dalam Kuliah Umum tentang Penerapan Telapak Ekologis dalam Pembangunan di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Kuliahumum ini merupakan rangkaian dari acara Introductory Meeting on Regional Ecological Footprint Initiative in Asia-Pacific, dan merupakan tindak lanjut diskusi di Sienna, Italia antara Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Global Footprint Network dalam membangun jejaring telapak ekologis di Kawasan Asia Pasifik.

Telapak ekologis itu jika diumpamakan seperti kita mencukur rambut kita tanpa menunggu sampai panjang, maka lama kelamaan kita menjadi botak, papar Pati Poblete.  Poblete juga mengatakan kalau bumi kita sekarang sudah membotak, maka perlu adanya kebijakan yang tepat untuk mencegah bumi menjadi benar-benar botak.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian PU Ruchyat Deni Djakapermana mengatakan,istilah telapak ekologis saat ini masih terdengar aneh di telinga sebagian besar masyarakat di Indonesia.  Walaupun, sebenarnya istilah ini sudah cukup lama dikenal. Telapak ekologis merupakan gambaran jumlah lahan produktif (darat dan laut) yang dibutuhkan untuk keberlangungan hidup suatu populasi dalam memproduksi dan mengkonsumsi semua sumber daya termasuk limbah yang dihasilkan yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberlanjutan suatu wilayah.

Perhitungan telapak ekologis ini diperkenalkan oleh William Rees pada tahun 1992 dan dikembangkan oleh Mathis Wackernagel dalam disertasinya pada tahun 1994.  Deni mengungkapkan, telapak ekologis dimaksudkan untuk menunjukkan ketergantungan hidup manusia terhadap alam serta untuk mengamankan kapasitas sumber daya alam untuk keberadaan manusia di masa mendatang.

Sementara itu, Yoshihiko Wada (Ecological Footprint Japan) yang juga bertindak sebagai pembicara pada acara kuliah umum mengungkapkan, di Jepang, penerapan telapak ekologis sudah pada tahap implementasi untuk dokumen rencananya, namun masih dalam tahap lokal. Perwakilan dari Manilas Ministry on Ecology, Lou Valencia Arsenio mengatakan, di Filipina dipandang perlu penerapan telapak ekologis karena jumlah hutannya yang berkurang drastis. Sejak tahun 1970, hanya 3% dari hutan asli yang tersisa di Filipina. 

Sebenarnya, Indonesia secara nasional lebih maju dibandingkan negara-negara lain di ASEAN dalam penerapan telapak ekologis. Sehingga, sebagai salah satu negara dengan telapak ekologis yang surplus, Indonesia harus menata strategi pembangunannya agar tidak menjadi defisit. (ay/ibm)

Pusat Komunikasi Publik

131210


Index Berita


Tag :  

Share