|

HIBAH AUSAID DUKUNG PENCAPAIAN MDGs DI INDONESIA

Jumat , 16 Des 2011
Bantuan hibah untuk suplai air dan sanitasi telah menjadi salah satu program penting dalam percepatan pencapaian target Millenium Development Goals (MDG), yang telah dipersiapkan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk periode 2010-2014. Dan, dari berbagai alternatif mekanisme pembiayaan, bantuan hibah pemerintah Australia melalui Indonesia Infrastructure Initiative (IndII) telah mendukung pencapaian target MDG Indonesia.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian PU Budi Yuwono saat menjadi keynote speaker dalam acara Indll’s End of Year Event yang diadakan di Hotel Four Seasons Jakarta, kemarin (15/12). Tampak hadir pula dalam acara tersebut Inspektur Jenderal Kementerian PU Basoeki Hadimoeljono, Direktur Bina Program Ditjen Bina Marga Harris Batubara, Konselor AusAID Benjamin Power, dan Direktur INDII David Ray.

“Hibah yang kami terima pada fase pertama adalah  AUD 76 juta, dan telah digunakan untuk pembangunan 77 ribu perumahan dan telah berhasil meningkatkan jumlah cakupan layanan pasokan air untuk 385 ribu masyarakat berpenghasilan rendah,” ujar Budi.

Dirjen Cipta Karya juga menambahkan bahwa selaras dengan rekomendasi dari PBB, Kementerian PU telah memberikan upaya terbaik dalam mencapai target yang ditetapkan dalam MDGs, yang salah satunya adalah bertujuan untuk mengurangi sampai setengah jumlah penduduk di Indonesia yang tidak memiliki akses ke pasokan air dan fasilitas sanitasi pada tahun 2015.

“Sesuai dengan tugas dan fungsinya, maka Ditjen Cipta Karya ikut berperan serta dalam mewujudkan komitmen Indonesia terhadap pencapaian target MDGs karena kita semua menyadari bahwa air bersih dan sanitasi merupakan dasar untuk pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa dalam mencapai target MDGs, Indonesia menghadapi berbagai tantangan-tantangan dalam manajemen penyediaan air dan sanitasi. Pertambahan jumlah penduduk di perkotaan yang cepat, yang tidak diikuti oleh peningkatan jumlah pasokan air dan fasilitas sanitasi yang layak dan memadai merupakan salah satu di antaranya.

Tantangan lainnya yaitu rendahnya cakupan pasokan air yang hanya mencakup 47% dari populasi nasional. Tingkat layanan ini masih jauh dari target MDGs, yaitu melayani 68% dari populasi. Juga tingginya angka kebocoran air (non-revenue water) akibat pelaksanaan pembangunan infrastruktur pasokan air yang tidak memenuhi standar teknis. Rata-rata angka kebocoran air dalam skala nasional adalah sebesar 33%. Selain itu, jumlah penduduk yang memiliki akses ke pasokan air yang memadai dan fasilitas sanitasi hanya 51% dari populasi nasional. Hal ini juga masih jauh di bawah target MDG yaitu sebesar 62%.

Selain masalah tersebut, anggaran yang terbatas juga menjadi tantangan tersendiri. Selama periode 2010-2014, pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran nasional sebesar Rp 12 triliun untuk sektor penyediaan air, dan Rp 14 triliun untuk sektor sanitasi, dengan prioritas masyarakat berpenghasilan rendah. (lyl/ifn)

 

 

Pusat Komunikasi Publik

161211

 

 

Tag : MDGs, Air Bersih, Cipta Karya  

Share