ANALISA PERSANDINGAN

PROVINSI MALUKU

DALAM PETA RTRWP, PPWI 2020, PETA CITRA SATELIT 2002

 

Melalui analisa persandingan diharapkan dapat diketahui beberapa dukungan prasarana wilayah terhadap pemanfaatan ruang dalam peta tata ruang provinsi ataupun juga dapat memberikan beberapa masukan dalam penyediaan infrastruktur wilayah sebagaimana telah ditetapkan dalam strategi pembangunan provinsi melalui RTRW tersebut. Data yang dipergunakan dalam proses analisa persandingan ini berasal dari peta:

1.      Peta Rencana Tata Ruang Wilayah  ( RTRW ) Provinsi Maluku Tahun 1994 2019.

2.      Peta Prasarana Wilayah Indonesia Provinsi Maluku 2020 Tahun 2004.

3.      Peta Citra Satelit wilayah Provinsi Maluku Tahun 2002

Dari peta RTRWP Provinsi Maluku pola pemanfaatan ruang terdiri dari kawasan budidaya dan kawasan lindung dengan arahan pemanfaatan atau distribusinya sebagai berikut :

a. Kawasan lindung terdiri dari :

-          Kawasan  cagar alam, terdapat di P. Nuswofar (Tanimbar Utara), P. Nustaram, dan P. Angwarmase (Tanimbar Selatan).

-          Suaka Margasatwa,  terdapat  di P. Kassu (Piru), P. Manuk, P. Baun, P. Kobror (Aru) dan P. Kisar.

-          Kawasan Hutan Lindung, umumnya terdapat dibagian tengah pulau dengan kelerengan curam diatas 40 % yang belum termasuk TGHK, tersebar hampir disemua pulau besar.

-          Dam/Bendungan terdapat di kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur.

-          Pantai berhutan bakau terdapat pada areal pesisir pantai yang masih padat dengan bakau.

-          Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya terdapat di P. Pombo (Ambon), Kep. Banda, Kep. Aru bagian Tenggara, Kep. Tegalaya, P. Kassa, dan Kep. Tayando (Kei. Kecil).

-          Kawasan rawan bencana, gunung api,  daerah sekitar gunung yang terpengaruh letusan gunung berapi, terdapat daerah sekitar gunung yang terpengaruh letusan gunung berapi terdapat di Kep. Banda, P. Damar, PP. Teon Nila Serua dan G. Api Wetar.

b. Kawasan budidaya dengan arahan distribusinya adalah:

-          Kawasan pertanian terbagi atas  pertanian lahan kering dan basah. Pertanian lahan kering mendominasi arahan pemanfaatan ruang, tersebar hampir di seluruh daerah Provinsi Maluku. Pertanian lahan basah terdapat di Pulau Buru dan P. Seram.

-          Kawasan pemukiman :  Kawasan pemukiman tersebar di sekitar Kota Ambon, juga terdistribusi di beberapa wilayah yang umumnya di sekitar ibukota kabupaten dan kota kecamatan.

-          Kawasan peternakan :  Kawasan yang diperuntukan bagi pengembangan peternakan besar (sapi) dikembangkan di P. Seram, P. Buru,  PP. Tanimbar,dan P. Leti Moa Lakor. Peternakan kecil (unggas) di kembangkan pada kawasan sekitar perkotaan, seperti di Kota Ambon, Kota Latuhalat, dan Kec. Kairatu.

-          Kawasan perikanan    : Kawasan perikanan terdapat pada daerah dataran dekat pantai, seperti di daerah Arara Kec. Wahai.

-          Kawasan pertambangan  : kawasan pertambangan terdapat di Kep. Kei, Kep. Aru, Kep Tanimbar, P. Buru dan di P. Wetar.

-          Kawasan Pariwisata : kawasan ini dibeberapa lokasi yang mempunyai kekususan tertentu yang memanfaatkan pantai, seperti P. Banda.

Strukur ruang provinsi diarahkan dalam pusat kegiatan utama (PKN) berada di Kota Ambon, orde dan selanjutnya adalah kota dan ibukota kabupaten, orde lainnya adalah ibukota kecamatan dalam wilayah Maluku.

Dalam  peta PPWI 2020 tergambarkan bahwa lembaran prasarana lebih banyak di wilayah utara provinsi ini seperti :

         Jaringan jalan arteri, yang menghubungkan Kota Ambon dengan kota-kota di sekitarnya,  dengan fungsi utama arteri primer. Untuk kawasan yang dipertahankan pengembangannya  seperti kawasan lindung, suaka alam dsb, maka jaringan jalan ke arah kawasan tersebut tingkatannya lebih kecil bahkan dengan skala lokal. Tipologi jaringan jalan ini terlihat juga di peta citra satelit yang menggambarkan jaringan jalan dibagian wilayah utara lebih lengkap dibandingkan dengan jaringan jalan dibagian selatan dan timur.

         Prasarana Pengairan terdiri dari embung dan bendung. Embung relatif lebih banyak di daerah selatan (Kab. Maluku Tenggara Barat), sedangkan bendung  terdapat di wilayah bagian utara yang sesuai dengan peruntukan revisi peta  RTRW bahwa kawasan utara diarahkan sebagai daerah pertanian lahan basah.