Kompas, Sabtu, 2 Desember 2006

Apa Lagi yang Bakal Terjadi di Porong ?

Oleh : Khairina

Rabu malam, 22 November 2006. Cipto, petugas Badan Litbang PU Pengairan, tengah bertugas mengawasi tanggul penahan lumpur di sisi ruas tol Porong-Gempol.

Tiba-tiba semburan api setinggi hampir 100 meter disertai ledakan keras mengagetkan pria setengah baya itu. Dia pun lari tunggang langgang menyelamatkan diri. "Rasanya punggung saya masih panas. Apinya masih terasa," ujar Cipto bergidik, mengingat betapa dekatnya dia dengan maut.

Cipto masih tergolong beruntung. Semburan api dari ledakan pipa gas Pertamina yang terletak di bawah tanggul penahan lumpur di sisi selatan jalan tol itu telah menewaskan 12 orang. Satu orang masih dinyatakan hilang dan belasan orang lainnya luka-luka sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Ledakan gas itu ternyata terjadi akibat penurunan permukaan tanah (subsidence). Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung menyebutkan penurunan permukaan tanah rata-rata terjadi 2 sentimeter per hari. Selama 43 hari telah terjadi penurunan tanah hingga 87 sentimeter.

Penurunan permukaan tanah di kawasan itu juga menyebabkan pergeseran permukaan tanah. Kepala Cabang Tol Surabaya-Gempol Subakti Syukur menjelaskan terjadi pergeseran dudukan jembatan (abutment) dan tumpuan jembatan (bearing-pad) sebesar 6 sentimeter. Kondisi ini telah terpantau sejak 9 Oktober 2006.

"Kami melarang pedagang kaki lima dan polisi yang biasa bertugas di bawah jembatan itu," ujar Subakti.

Menurut Ketua Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo Basuki Hadimuljono, batas aman pergeseran tanah itu adalah 13 sentimeter. "Kami masih terus mengawasi kondisi itu. Setiap hari saya menerima laporan," ujarnya.

Basuki menjelaskan, ada dua hal yang menyebabkan pergeseran tanah. Selain disebabkan lumpur yang terus menyembur dari sumur Banjar Panji I—hingga kini sudah mencapai 10 juta meter kubik—pergeseran tanah juga disebabkan kawasan itu tergolong daerah patahan.

Pergeseran dan penurunan permukaan tanah membuat kawasan itu menjadi sangat tidak stabil. Jembatan jalan tol Porong-Gempol rawan ambrol. Selain itu, pipa, kabel, atau benda lain yang tertanam di dalam tanah atau pada permukaan tanah berpotensi retak atau pecah sehingga membahayakan jiwa manusia. Setidaknya, hingga radius 1 kilometer, daerah itu harus benar-benar "bersih".

"Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, kami segera melakukan tindakan setelah pipa Pertamina meledak," ujar General Manager PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Distribusi Wilayah II Jawa Bagian Timur Trijono.

Menurut dia, PGN memiliki stasiun penerima gas (optic station) yang berlokasi di dekat pipa milik Pertamina yang meledak. Setelah kejadian itu, PGN buru-buru memasang keran penutup sehingga gas tidak bisa mengalir melalui pipa yang meledak itu. PGN juga menutup pipa gas sepanjang 10 kilometer yang seluruhnya masih terbenam di dalam lumpur.

Ke depan, Trijono juga berencana membentengi stasiun penerima gas yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari pusat semburan lumpur. Dengan benteng setinggi 5 meter, dia berharap pipa itu akan aman dari terjangan lumpur. "Tetapi, kalau sudah sangat membahayakan akan langsung kami relokasi," tambahnya.


Terhambat

Lambatnya penanganan lumpur, kata Trijono, membuat upayanya untuk membuat tindakan antisipatif terhambat. "Penanganan lumpur belum tuntas sehingga kami juga masih bingung langkah apa yang harus kami lakukan," katanya.

Lumpur yang terus menyembur juga membuat pusing PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Perusahaan itu terpaksa mematikan jaringan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang melintas di atas semburan lumpur. Jarak aman antara kabel SUTET dan tanah adalah 7 meter. Endapan lumpur membuat jarak antara tanah dan kabel SUTET tinggal 4-5 meter.

"Jaringan itu sudah kami matikan karena bisa sangat berbahaya. Jadi yang tinggal hanya kabelnya," ujar M Faisal Asyhari, Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jawa Timur.

PLN akhirnya memindahkan dua trafo ke tiga gardu induk. Trafo yang tersisa tinggal yang berkapasitas 10 mega volt ampere, dan itu pun segera dipindahkan. Untuk sementara, pelanggan dilayani lewat jaringan tegangan menengah. Akibatnya, kualitas listrik yang diterima konsumen terganggu, artinya cahaya lampu lebih redup daripada biasanya.

Sementara itu, PT Telkom segera merelokasi kabel optik milik mereka yang terbentang sepanjang 16 kilometer. Akibat amblesnya tanah, 66 urat (core) kabel optik milik PT Telkom putus. Padahal, satu urat kabel optik mampu melayani 3.000 pelanggan.

"Jadi bisa dibayangkan berapa banyak pelanggan yang terganggu. Untunglah kabel kami menggunakan sistem loop sehingga jika jalur utara terganggu, kami masih memiliki jaringan di jalur selatan," kata Manajer Komunikasi PT Telkom Jawa Timur Djadi Soegiarto.

Pemindahan kabel optik itu menghabiskan dana Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar. Kerugian yang diderita Telkom tidak hanya itu. BUMN ini juga terpaksa kehilangan uang sekitar Rp 1,4 miliar akibat hilangnya pendapatan dan peralatan.

PT PLN juga mengaku mengeluarkan tambahan Rp 4,7 miliar per hari untuk menjalankan pembangkit listrik di PLTGU Gresik. Dua dari tujuh pembangkit di PLTGU itu, masing-masing berkapasitas 500 megawatt, bisa dijalankan dengan menggunakan solar. Terhentinya pasokan gas menyebabkan PLN terpaksa menggunakan solar.

Kerugian PLN belum termasuk hilangnya pendapatan dari pelanggan, besarnya sekitar Rp 450 juta. Selain itu, banyak aset PLN yang rusak terkena lumpur. Total kerugian akibat rusaknya aset sekitar Rp 8 miliar.


Jalur kereta api

Jarak rel kereta api yang hanya sekitar 5 meter dari tanggul penahan lumpur merupakan ancaman yang nyata terhadap keselamatan dan keamanan penggunaan kereta api.

Apalagi, musim hujan akan segera tiba. Seperti bom waktu, akan banyak korban lagi jika pemerintah tidak segera memindahkan jalur kereta api. Jalur ini setiap hari dilalui 46 kereta api. Sampai saat ini kereta api masih melaju di jalur tersebut meski kecepatannya harus dikurangi saat melintas di sekitar tanggul.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Soemino Eko Saputro mengatakan, relokasi baru akan dilakukan mulai awal 2007 apabila dana yang dibutuhkan sebesar Rp 250 miliar telah cair.

Ia mengatakan, relokasi rel ini diperkirakan selesai dalam dua tahun pembangunan. Jalur baru ini, lanjut Soemino, dimulai dari Stasiun Sidoarjo melalui Tarik lalu membelok sampai Stasiun Gununggangsir sepanjang sekitar 16 kilometer.

Saat ini Departemen Perhubungan bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, masih melakukan studi terhadap kelayakan jalur kereta api yang saat ini masih dilalui dan jalur relokasi.

Sementara itu, relokasi jalan tol Porong-Gempol diperkirakan baru selesai 2009. Menurut Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Hendrianto, setelah ruas jalan tol Porong-Gempol di Kilometer 37,5 sampai Kilometer 40 terendam lumpur, relokasi dilakukan mulai pintu tol Porong sampai pintu tol Gempol. Jalan tol ini berjarak sekitar 1 kilometer di selatan genangan lumpur.

Jalan tol baru dibangun 5-6 meter di atas tanah. Untuk menghindari pembebasan tanah terlalu banyak, kata Hendrianto, pembangunan dilakukan di atas jalan arteri kota. Pembangunan sekitar 7 kilometer jalan tol ini dilakukan selama 1,5 tahun sampai 2 tahun, dimulai Januari 2007.

Relokasi tol ini memakan biaya Rp 1,1 triliun untuk pembebasan lahan dan konstruksi. Selama jalan tol dibangun, jalan non-tol, seperti Jalan Raya Porong dan Simpang Tiga Japanan, juga diperlebar untuk mengatasi kemacetan.

"Kalau tanahnya ada, jalan diperlebar menjadi empat lajur. Kalau tidak ada, parit ditutup pakai beton," kata Hendrianto. Pelebaran jalan sepanjang sekitar 40 kilometer ini memakan biaya Rp 160 miliar dari APBN 2007. Pelebaran jalan selesai akhir 2007.


Inventarisasi daerah rawan

Mengenai kemungkinan bahaya lain yang masih akan terjadi setelah ledakan pipa gas Pertamina, Basuki Hadimuljono mengatakan, daerah paling rawan terletak di titik 41 sekitar pompa lumpur di Desa Besuki. Daerah itu harus diwaspadai karena bentuk permukaan tanah yang cekung dan dapat mengakibatkan lumpur mengalir ke permukiman di seberang jalan desa.

Selain itu, Basuki memastikan tidak ada saluran seperti pipa gas Pertamina yang berisiko meledak. "Ada pipa milik Lapindo, tetapi sudah tidak difungsikan," ujarnya.

Langkah yang dilakukan Tim Nasional saat ini, lanjut Basuki, adalah menutup tanggul tol, meninggikan tanggul di kolam A, membuat tanggul yang berbatasan dengan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas), dan segera mengalirkan lumpur dengan dua alat yang baru didatangkan.

Sementara Tim Nasional membuat tanggul, Perumtas di Desa Kedungbendo sudah terendam air lumpur beberapa hari ini. Lumpur Lapindo yang awalnya kecil itu nyatanya membuat semua orang repot. Lantas, apa lagi yang akan terjadi di Porong? (Laksana Agung Saputra/ Gatot Widakdo)