Slide 1

Berita PUPR > Pulau Jawa Berpotensi Mengalami Kelangkaan Air


Kamis, 21 April 2016, Dilihat 358 kali

Jakarta – Pulau Jawa berpotensi besar mengalami kelangkaan air karena hanya memiliki ketersediaan air permukaan sebesar empat persen. Sementara jumlah penduduk Pulau jawa mencapai 60 persen dari total penduduki Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Waluyo Hatmoko saat orasi pengukuhan Profesor Riset Bidang Teknik Konservasi dan Tata Air yang berjudul “Upaya dan Strategi Mengatasi Kekeringan dan Kelangkaan Air di Indonesia” di gedung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kamis (21/4).

Ia menjelaskan, jumlah ketersediaan air permukaan di Indonesia adalah 3.960 miliar meter kubik per tahun namun Pulau Jawa hanya memiliki air permukaan sebesar empat persen. “Hal ini mengisyaratkan bahwa Pulau Jawa berpotensi besar mengalami kelangkaan air,” ujarnya.

Terdapat dua indeks kelangkaan air yaitu Indeks jumlah air per kapita per tahun dan Indeks Penggunaan Air (IPA). Secara nasional ketersediaan air per kapita Indonesia tergolong tinggi di dunia namun kondisi ketersediaan air di Indonesia tidak merata.

Berdasarkan data yang disampaikan, Indeks Air per-Kapita Indonesia sebesar 15.631 meter kubik/orang/tahun di atas China dan India, sedangkan Indeks Air per-Kapita di Jawa, 1.168 meter kubik/orang namun karena penggunaan airnya lebih dari  1.700 meter kubik/orang sehingga mengakibatkan kelangkaan.

“Kalau dilihat dari IPA, Indonesia masih berada pada kondisi tidak kritis kecuali Pulau Jawa yang masuk kategori kritis ringan,” katanya.

Sebelumnya, ia menerangkan bahwa kelangkaan dan kekeringan adalah dua hal yang berbeda. Kalau kekeringan air terjadi karena alam yang disebabkan oleh iklim. Sehingga manusia tidak dapat mencegah atau mengubahnya namun hanya dapat mempersiapkan mitigasinya.

Sementara kelangkaan air, Lanjut Waluyo, terjadi karena ulah manusia yang memakai air terlalu berlebihan, tidak melestarikan hutan, dan tidak mengelola air dengan baik. Meski begitu, kelangkaan air dapat diatasi dengan manajemen ketersediaan air dan kebutuhan air.

Waluyo menyampaikan, manajemen ketersediaan air prinsipnya menambah jumlah air yang tersedia untuk mencapai pemenuhan kebutuhan air. Permasalahan klasik yang terjadi adalah bencana banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Konsep permanenan air bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi kelangkaan air saat musim kemarau. Karena permanenan air adalah konsep menyimpan air  yang  berlebih pada musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau.

“Konsep permanenan air dapat diterapkan pada daerah banjir, sawah tadah hujan, tampungan makro-mikro dan atap permukiman,” ucap Waluyo.

Menurutnya, rencana pembangunan 65 bendungan di Indonesia juga merupakan penerapan konsep permanenan air. Selain dari pembangunan tampungan air, peningkatan debit aliran rendah pada musim kemarau dapat pula dicapai dengan pengaturan tata ruang agar memiliki rasio hutan yang cukup.

Berbagai studi menunjukan bahwa berkurangnya luas hutan mengakibatkan penurunan debit air hingga 45 persen. Pada kondisi ketersediaan air dalamn suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak mencukupi, maka dapat dibantu oleh DAS tetangganya yang masih memiliki air berlebih.

Model simulasi alokasi air telah mendukung perencanaan alih aliran antar DAS pada pemasokan air baku untuk Jakarta, dari DAS Cisadane di barat dan DAS Citarum dari Timur, hal yang sama juga berlaku untuk air baku di kota Bandung.

Sementara upaya mitigasi kekeringan dapat direncanakan jauh hari sebelum terjadi kekeringan yaitu dalam bentuk sistem peringatan dini bencana kekeringan yang memungkinkan para pengguna air dapat bersiap diri. “Riset ini akan ditingkatkan lagi supaya kekeringan di sungai, waduk dan danau yang langsung berhubungan dengan masyarakat bisa kita tahu sejak dini,” katanya.

Menurutnya, saat ini hanya ada sistem peringatan banjir, misalnya, seperti Katulampa siaga I maka dapat diketahui berapa jam lagi Jakarta akan banjir. Dengan adanya sistem deteksi dini kekeringan, diharapkan dapat diketahui kira-kira berapa bulan lagi akan terjadi kekeringan, sehingga petani juga dapat mengetahui tanaman apa yang tepat untuk ditanam.

Ia menambahkan, jumlah kebutuhan air nasional sebenarnya tidak terlalu besar hanya 301 miliar kubik per tahun atau hanya delapan persen dari seluruh air yang tersedia. Dari jumlah tersebut, kebutuhan air irigasi mencapai 90 persen dari seluruh kebutuhan air, sedangkan kebutuhan air untuk rumah tangga, perkotaan dan industri hanya empat persen. (Toar)