Slide 1

Berita PUPR > Sinkronisasi Air Baku untuk Air Minum, Lokomotif Pelayanan Air Minum di Indonesia


Senin, 05 Februari 2018, Dilihat 799 kali

Surabaya - Dalam rangka pemenuhan hak asasi atas air yang harus dipenuhi oleh negara, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019, juga untuk mencapai 100% akses aman air minum bagi seluruh masyarakat Indonesia pada tahun 2019, Direktorat Jenderal Cipta Karya gelar rapat sinkronisasi program penyediaan air baku untuk air minum tahun 2018 bersama Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, (29/01/2018) di Surabaya.

Dirjen Cipta Karya Sri Hartoyo, dalam arahannya mengungkapkan, untuk mendukung RPJMN 2015-2019 tersebut, upaya pemenuhan akan akses aman air minum diwujudkan dalam misi pengembangan air minum.

"Ke depan, kita juga dihadapkan pada target Sustainable Development Goals (SDG’s) yaitu pada Goal ke-6 yakni menjamin ketersediaan dan keberlanjutan pengelolaan untuk air minum dan sanitasi bagi semua orang," ujar Sri Hartoyo.

Sementara tingginya pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi, yang tidak diimbangi oleh daya dukung lingkungan akan berdampak pada penurunan kualitas dan kuantitas air baku. Saat ini, kebutuhan dukungan air baku untuk air minum sampai dengan 2019 sebesar 128 m3/det dan diperkirakan baru akan terpenuhi sekitar 50% pada tahun 2019.

Lebih lanjut, Sri Hartoyo menjelaskan bahwa terdapat berbagai tantangan terkait penyediaan air baku yang harus dihadapi, diantaranya menurunnya kuantitas sumber air baku akibat  perubahan iklim global dan penurunan kualitas lingkungan di daerah tangkapan air, ketersediaan sumber air baku yang tidak merata antar wilayah. Kemudian, adanya konflik kepentingan antar pengguna sumber air baku, serta penurunan kualitas air baku akibat pencemaran sumber air baku.

"Untuk itu diperlukan kebijakan terkait penyediaan air baku untuk air minum secara berkelanjutan, berupa, meningkatkan konservasi wilayah sungai dan perlindungan sumber air baku, meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya air melalui pendekatan berbasis wilayah sungai, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air baku melalui sistem regional, sertameningkatkan kualitas perencanaan dan ketepatan sasaran dukungan penyediaan air baku untuk air minum," Jelas Sri Hartoyo

Kegiatan Sinkronisasi Program Penyediaan Air Baku untuk Air Minum ini diharapkan menjadi wadah yang efektif bagi Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air untuk melakukan sinkronisasi perencanaan lingkup kegiatan, sinkronisasi pembiayaan, serta sinkronisasi jadwal pelaksanaan pembangunan, sehingga akan tercapai target utama kegiatan ini yaitu terbangunnya infrastruktur unit air baku yang tepat.

"Kita berharap dengan dukungan penyediaan air baku dari Ditjen SDA dalam pengembangan SPAM, mampu mendorong pemerintah daerah dan PDAM maupun penyelenggara SPAM lainnya di daerah sebagai lokomotif pelayanan air minum di Indonesia. Dengan komitmen bersama, pelayanan air minum yang prima bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat kita capai dimasa depan," tutup Dirjen Cipta Karya. (kompuck)