Slide 1

Berita Ditjen Cipta Karya > Kuliah Likuefaksi Informasikan Penanganan Bencana


Selasa, 08 Januari 2019, Dilihat 524 kali

Beberapa bulan terakhir Indonesia diguncang gempa di antaranya Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mengalami gempa dengan kekuatan 7,0 Skala Richter pada 5 Agustus 2018 dan tanggal 28 September 2018 gempa juga mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah berkekuatan 7,4 Skala Richter dan disertai dengan tsunami.
 

Hal tersebut diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang diwakili oleh Dirjen Cipta Karya Danis H. Sumadilaga dalam Kuliah Likuefaksi di Jakarta, Selasa (08/01/2019).

“Kedua gempa kuat ini juga menimbulkan fenomena likuefaksi, meskipun yang terjadi di Nusa Tenggara Barat tidak sebesar yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Likuefaksi masih terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia, terlebih fenomena likuefaksi yang dahsyat seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah belum pernah terjadi sebelumnya di tengah masyarakat modern Indonesia,” ujar Danis.

Likuefaksi merupakan fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

Danis mengungkapkan, penanganan pada wilayah yang mengalami masalah likuefaksi merupakan sesuatu yang harus diperhatikan, terutama dalam melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Rencana pembangunan permukiman yang baru harus didasarkan pada evaluasi yang jelas tentang mekanisme likuefaksi dan pemilihan wilayah yang aman untuk rekonstruksi.

Kementerian PUPR telah melakukan survei pendahuluan dan investigasi lapangan untuk mengidentifikasi mekanisme likuefaksi dan posisi garis patahan aktif di daerah yang terkena dampak. Saat ini Pemerintah sedang melaksanakan proses relokasi permukiman, khususnya pada kawasan yang sebelumnya mengalami likuefaksi. Kejadian likuefaksi tersebut juga mendorong Pemerintah untuk mengkaji tidak hanya penyebabnya, tetapi juga menyusun kebijakan yang lebih tepat agar negara kita dapat menjadi lebih aman dan tahan terhadap potensi bencana.

Kuliah likuefaksi diisi dengan narasumber dari University of Tokyo yang merupakan ahli dalam dinamika tanah yang terkait dengan gempa bumi, seperti likuefaksi dan stabilitas seismik dari lereng dan struktur bumi. Profesor Ishihara terkenal dengan publikasi penelitiannya tentang perilaku siklik pasir dan likuefaksi endapan berpasir. Beliau juga memberikan kontribusi yang luar biasa bagi profesi Teknik Geoteknik Gempa Bumi.

Danis mengharapkan, kuliah oleh Profesor Ishihara dapat memberi pengetahuan tentang penanganan masalah likuefaksi yang terjadi di Jepang dan skema mitigasi yang dilakukan, karena Indonesia dan Jepang memiliki kondisi seismotektonik dan geologis yang relatif mirip, sehingga pengalaman dan pengetahuan dari Profesor Ishihara akan sangat bermanfaat.(kompuck)



‚Äč