Slide 1

Berita PUPR > HARGA ASPAL NAIK, POTENSI ASBUTON MAKIN MENJANJIKAN BAGI INV


Senin, 21 Juli 2008, Dilihat 1469 kali

HARGA ASPAL NAIK, POTENSI ASBUTON MAKIN MENJANJIKAN BAGI INVESTOR

 

Kenaikan harga aspal yang mengiringi lonjakan harga minyak dunia makin membuka peluang bagi investor untuk mengembangkan aspal buton (asbuton). Kualitas asbuton sendiri yang telah diproses menjadi aspal murni memiliki kualitas yang lebih baik dari aspal yang ada. “Biaya awal teknologi dan pabrik untuk memproduksi asbuton menjadi aspal murni dalam jumlah besar memang masih mahal. Saat ini investor masih takut-takut oleh karenanya investor kita dorong untuk mengembangkan ini, karena pasarnya sudah ada” jelas Direktur Bina Teknik Ditjen Bina Marga Danis Sumadilaga di Jakarta, Senin (21/7).

 

Potensi pasar kebutuhan aspal nasional cukup besar yakni mencapai 1-1,2 juta ton per tahun. Untuk proyek-proyek Departemen PU sendiri tahun ini membutuhkan aspal sebesar 600 ribu ton. Pemenuhan kebutuhan aspal dalam negeri tahun ini berasal dari produksi Pertamina Cilacap sebesar 400 ribu ton, impor aspal yang dilakukan Pertamina 200-250 ribu ton dan sisanya melalui impor langsung. Kebutuhan aspal tidak hanya untuk pembangunan jalan baru tetapi juga kebutuhan pelapisan ulang jalan yang dilakukan setiap 5 tahun.  

 

Menurut Danis, harga aspal Pertamina memang lebih rendah sekitar Rp1.500 dibandingkan dengan harga aspal impor seperti Shell, British Petrolum dan ESSO dengan kualitas lebih bagus. Perbedaan kualitas tersebut, menurutnya dikarenakan kilang penyulingan Pertamina tidak didesain untuk memproduksi aspal, berbeda dengan produsen aspal luar negeri.

 

Harga aspal secara keseluruhan saat ini mengalami kenaikan. Data dari asosiasi aspal di Sumatera menyebutkan harga aspal dari Januari hingga Juni 2008 naik sekitar 23 persen atau sebesar Rp5.500 per kilogram minus biaya kirim. Belum lagi aspal yang merupakan produk turunan dari minyak mentah tersebut dapat dirubah menjadi minyak bakar yang memiliki harga lebih tinggi 1,4 kali dibanding harga aspal. Hal ini membuat Pertamina mulai mengurangi produksi aspalnya.

 

Sementara penggunaan asbuton di Indonesia sangat kecil yakni tahun ini ditargetkan mencapai 25 ribu ton yang berupa butiran dan semi ekstraksi. Cadangan aspal buton yang dimiliki Indonesia mencapai 600 juta ton berupa rock aspalt. ”Bila yang bisa diekstrak 20%-nya atau 120 juta ton maka dapat memenuhi kebutuhan aspal selama 100 tahun. Asbuton bila sudah full ekstraksi atau menjadi aspal murni, meskipun masih harus di campur dengan aspal Pertamina namun hasilnya akan lebih bagus, lebih keras karena kelekatannya lebih baik” jelas Jawali Marbun, Kasubdit Teknik Jalan Ditjen Bina Marga. (gt)

 

Pusat Komunikasi Publik

210708