MESKI SEMAKIN LANGKA, AIR TANAH MASIH DIMINATI MASYARAKAT

MESKI SEMAKIN LANGKA, AIR TANAH MASIH DIMINATI MASYARAKAT

1069 45 Print

MESKI SEMAKIN LANGKA, AIRTANAH MASIH DIMINATI MASYARAKAT

Krisis air yang melanda dunia saat ini disebabkankarena terjadinya  krisis perilakumasyarakat dan krisis pengelolaan lingkungan. Jadi bukan karena semata-matakurangnya air untuk memenuhi kebutuhan hidup, penyebab mengapa kita mengalamikesulitan air dan lingkungan menjadi kritis. Fakta menunjukkan telah terjadikecenderungan yang menurun, baik dari sisi penyediaan (supply) jumlah maupunmutunya. Sementara di sisi kebutuhan (demand) justru terjadi peningkatan. Sumberair tanah dinilai memiliki kelebihan dibandingkan dengan sumber air permukaan.Kelebihan sumber air tanah diantaranya selain kualitasnya cukup baik, bisa cepatdan langsung dimanfaatkan. Hal inilah penyebab mengapa sumber air tanah masih menjadi pilihan utama untuk memenuhi berbagaikeperluan.

DirjenSumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Ir. Rustam Syariefmenyatakan hal itu dalam sambutannya yang dibacakan Direktur SDA Wilayah Tengah,Ir. Djoko Subarkah pada acara Lokakarya Percontohan Sumur Resapan Selasa(21/10) di Jakarta. Rustam menegaskan, pilihan masyarakat tersebut dikarenakankurang memadainya sumber air permukaan dalam memasok kebutuhan akan air.

Buktinya 80% kebutuhanair minum dan rumah tangga masih menggantungkan sumber air tanah. Terlebih lagidi daerah urban, ungkapnya. Data itu menunjukkan pemakaian air tanah terusmeningkat dari tahun ke tahun, tambah Rustam. Penggunaan air tanah di DKI, kata Rustam sejak 1990-1994 telah mengalamipeningkatan dari 31 juta m3 menjadi 33,8 juta m3. Begitu pula di CekunganBandung dari 46,8 juta m3 meningkat menjadi 61 juta m3.

Dikatakan, pemakaian airtanah untuk kebutuhan domestik dan perkotaan juga mengalami peningkatan. Hal itudapat diketahui dari adanya instrusi air laut, dan amblesan tanah. Berkaitandengan itu maka sudah saatnya dilakukan pengelolaan air tanah yang mengacu padaefisiensi dan efektivitas demi kelestarian sumber air tanah dimasa depan. Sebabbila tidak, tegas Rustam harga air tanah akan semakin tinggi. Dia mencontohkan,eksploitasi air tanah oleh kalangan industri dan dunia usaha di perkotaan.Terlihat belum adanya upaya dari mereka (pengguna air) untuk mengisi kembalisumber air yang digunakan, sehingga praktis cadangan air tanah terus berkurang.

Menurutnya, mengelola airakan selalu berkaitan dengan menata perilaku masyarakat agar mereka hidup lebihbijak dan ramah bersama air. Perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap airterlihat dari tercemarnya sungai oleh limbah industri dan limbah rumah tangga.Sehingga air bersih menjadi barang mewah yang sulit diperoleh masyarakat. Rustammenyatakan, sebenarnya upaya-upaya teknis banyak dilakukan berbagai pihak, tetapi tanpa diiringi dengan peningkatankesadaran akan pentingnya kelestarian sumberdaya air, maka upaya tersebut tidakakan optimal. Oleh karena itu, ujar Rustam diperlukan keterpaduan polapenanganan krisis air, baik substansi permasalahan maupun teknis penangannya.

PEREMBESAN AIR LAUT

Seusai membuka Lokakarya,Direktur SDA Wilayah Tengah, Djoko Subarkah, mengungkapkan, saat ini perembesanair laut sudah sangat mengkhawatirkan. Itu terjadi akibat pemanfaatan air tanahyang berlebihan tanpa memperhatikan upaya-upaya konservasi sumber daya air (SDA)."Saya khawatir jika konservasi air tanah tidak segera ditangani maka rembesan air laut akan semakin tinggi," kata Djoko.

Menurutnya, rembesan airlaut di Pantura kini telah mencapai 15-20 kilometer. Bahkan di DKI Jakarta instrusi air laut sudah sampai sekitar Jl. Sudirman,Jakarta Pusat. Jika pemanfaatan air tanah dibarengi dengan upaya konservasi makacadangan air tanah yang cukup banyak mampu mendesak rembesan air laut, sehinggatidak merambah masuk lebih jauh lagi.   

Dikatakan, guna mencegahperluasan rembesan air laut, dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untukmembangun sumur-sumur resapan. Menurut dia, sosialisasi untuk membangun sumurresapan telah dicanangkan jauh-jauh hari, namun hingga kini kesadaran masyarakatmasih rendah. Berkaitan dengan maalah ini Pemda perlu diberi dorongan, agardapat menciptakan suatu Perda. Dimana di dalamnya, menggugah kesadaranmasyarakat untuk membangun sumur resapan. Terutama di daerah-daerah yang padatpemukiman, yang kecil kemungkinannya tersedia lahan kosong untuk membangun sumurresapan.  

Menurut Djoko, Kimpraswiltelah menyediakan anggaran Rp 1,2 miliar pada tahun 2003 untuk pembangunan wadukkecil di Depok, bekerjasama dengan pihak Universitas Indonesia. Diingatkan, jikamasalah air tanah  diabaikan, selainmembuka celah bagi instrusi air laut juga dapat mengakibatkan amblasnya tanah,serta terjadinya pencemaran dari limbah di sekitarnya.(sony)

Pusdatin

21102003

 

Apakah informasi di atas cukup membantu?

Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR
Facebook: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Twitter: @kemenpu
Instagram: kemenpupr
Youtube: kemenpu
#SigapMembangunNegeri

Berita Terkait